Aku bertambah tua, terdampar dalam tetesan waktu yang tak seberapa. Bagian hidup yang senantiasa memecah stagnasi, atau mungkin hanya sekedar intro dari perpindahan episode dalam sebuah judul kehidupan yang sama.
Persetan dengan usia, aku tak begitu peduli untuk menghitungnya. Entah berapa banyak pecahan waktu telah terserak. Bagiku hidup adalah rangkaian proses pemikiran, mengisi otak sepenuh-penuhnya, kemudian menumpahkannya dalam aksi yang nyata, merubah kuncup masa menjadi pahala. Bukankah amanat terberat dalam hidup adalah usia?
Korelasi kedewasaan melalui perhitungan usia bukan sebuah kemutlakan. Untuk menjadi sosok yang dewasa, usia bukan menjadi prasyarat utama.
Soe Hok Gie pernah berkata dalam pikirannya, sebuah kutipan yang tidak setia dari adegan ketika Midas bertanya kepada Silenus:
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda.” (Catatan Seorang Demonstran, 22 Januari 1962)
Aku tak begitu setuju. Menganggap tidak dilahirkan sebagai sebuah kemujuran adalah angan belaka, karena kita telah menjadi fakta di antara semesta yang tak bisa dibantah logika.
Aku sempat ingin merobek langit membuka tabir rahasia dunia yang tak kasat mata. Aku tidak ingin mati dalam kebekuan, sehingga percikan roda api dalam kepala terus berputar.
Ketidaktahuan membuat saya seperti onggok yang bodoh, tergumpal di sudut bumi, tanpa sebuah arti. Anggapan bahwa ketidaktahuan memberikan keselamatan adalah anggapan yang nista. Ketidaktahuan yang dibuntuti ketidakmautahuan adalah kegoblokan kuadrat yang melipat ganda dan menggurita. Demikian yang ku rasa…
Mendobrak ketidaktahuan diawali dari menjejali otak dengan pemikiran kehidupan, karena pemikiran adalah salah satu titian menuju kesadaran yang sejatinya menghasilkan perubahan menakjubkan. Hidup butuh pengorbanan, sedangakan pengorbanan butuh penyandaran. Bukankah tidak mungkin seseorang berkorban tidak untuk apa-apa? Aku tidak ingin digerogoti kehampaan tanpa nilai. Hingga kita akan berjalan pada sebuah motif kehidupan yang tegak dengan keyakinan.
Hamparan bumi adalah ruang kelas tak berbangku, semesta menjadi guru, pergantian waktu adalah lembaran buku, dalam sebuah pelajaran mengeja kehidupan, mengkaji duniawi, demikian Tuhan mendidik kita pada sebuah Universitas Alam Semesta.
Lampu pijar yang kutanam dalam kepala mulai berpendar menyala. Lilitan kawat logam didalamnya yang dijalari protoelektron membentuk konfigurasi cahaya. Bagiku inilah hidayah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar